Salah satu pembahasan paling menarik dalam revisi terbaru ISO/IEC 17024:2026 adalah pengakuan terhadap penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam aktivitas sertifikasi person.
Belakangan ini muncul pertanyaan yang sangat relevan:
“Klausul 6.5 membahas penggunaan AI dalam aktivitas sertifikasi. Namun, standar ini tidak secara spesifik menyebutkan alur kerja otomatis (automated workflow), mesin pencari cerdas, atau AI Agent yang membantu pengguna menemukan dokumen dan informasi dengan lebih cepat. Apakah aplikasi seperti ini juga termasuk dalam cakupan persyaratan baru tersebut?”
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena banyak Lembaga Sertifikasi Person (LSP) mulai memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung proses sertifikasi.
Memahami Tujuan ISO/IEC 17024:2026
ISO/IEC 17024:2026 memperkenalkan persyaratan baru terkait penggunaan AI dalam proses sertifikasi person. Namun, standar ini sengaja disusun dengan pendekatan yang netral terhadap teknologi (technology-neutral).
Artinya, standar tidak berusaha mendefinisikan atau mengatur setiap jenis teknologi AI yang mungkin muncul di masa depan. Sebaliknya, fokus utama standar adalah pada dampak penggunaan teknologi tersebut terhadap integritas proses sertifikasi.
Dengan kata lain, organisasi tidak seharusnya menilai AI berdasarkan nama atau jenis teknologinya, melainkan berdasarkan sejauh mana AI tersebut memengaruhi aktivitas sertifikasi dan risiko yang mungkin ditimbulkannya.
Apakah AI Assistant dan AI Agent Termasuk dalam Cakupan?
Dalam banyak situasi, jawabannya adalah berpotensi ya.
AI Assistant, AI Agent, intelligent search engine, chatbot berbasis AI, maupun sistem otomatis yang membantu pencarian dokumen dapat masuk dalam cakupan persyaratan ISO/IEC 17024:2026 apabila digunakan untuk mendukung, memengaruhi, atau berinteraksi dengan aktivitas sertifikasi.
Contohnya antara lain:
- Membantu menemukan dokumen kandidat yang digunakan dalam proses asesmen.
- Mengakses dan mengelola bukti kompetensi peserta sertifikasi.
- Membantu evaluator atau asesor mencari informasi yang diperlukan selama proses penilaian.
- Menyusun ringkasan data yang digunakan dalam proses surveilen atau sertifikasi ulang.
- Memberikan rekomendasi atau informasi yang menjadi dasar pertimbangan dalam aktivitas sertifikasi.
- Meskipun AI tersebut tidak mengambil keputusan sertifikasi secara langsung, hasil yang diberikan dapat memengaruhi informasi yang digunakan oleh personel yang menjalankan proses sertifikasi.
Karena itu, organisasi perlu mengevaluasi apakah penggunaan AI dapat menimbulkan risiko terhadap:
- Ketidakberpihakan (impartiality).
- Keadilan (fairness).
- Keabsahan hasil (validity).
- Keandalan hasil (reliability).
- Kerahasiaan informasi (confidentiality).
- Integritas ujian dan asesmen.
- Konsistensi proses sertifikasi.
Pendekatan Berbasis Risiko Menjadi Kunci
Salah satu prinsip utama dalam ISO/IEC 17024:2026 adalah pengelolaan risiko secara sistematis.
Ketika AI digunakan dalam aktivitas sertifikasi, lembaga sertifikasi perlu melakukan identifikasi, analisis, pemantauan, dokumentasi, serta pengendalian terhadap risiko yang mungkin muncul.
Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab antara lain:
- Apa fungsi AI dalam proses sertifikasi?
- Apakah AI memengaruhi aktivitas asesmen atau pengambilan keputusan?
- Risiko apa yang dapat timbul dari penggunaan AI tersebut?
- Bagaimana hasil AI diverifikasi?
- Bagaimana organisasi memastikan tidak terjadi bias?
- Sejauh mana pengawasan manusia tetap dilakukan?
Semakin besar pengaruh AI terhadap hasil sertifikasi, semakin tinggi pula tingkat pengendalian, validasi, transparansi, pemantauan, dan bukti objektif yang harus tersedia.
Sebagai contoh, AI yang hanya digunakan untuk mencari dokumen tentu memiliki tingkat risiko yang berbeda dibandingkan AI yang digunakan untuk menilai jawaban ujian, melakukan scoring otomatis, atau memberikan rekomendasi keputusan sertifikasi.
Pengawasan Manusia Tetap Menjadi Kewajiban
Meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi, tanggung jawab atas proses sertifikasi tetap berada pada lembaga sertifikasi.
ISO/IEC 17024:2026 menegaskan bahwa penggunaan AI tidak mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada teknologi. Lembaga sertifikasi tetap harus memastikan bahwa seluruh proses berjalan secara adil, valid, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, setiap penggunaan AI perlu didukung oleh:
- Pengawasan manusia yang memadai.
- Validasi terhadap hasil AI.
- Pemantauan berkelanjutan.
- Pengelolaan bias dan konflik kepentingan.
- Pengendalian risiko terhadap ketidakberpihakan.
- Perlindungan kerahasiaan informasi.
Inovasi Harus Berjalan Bersama Kepercayaan
Persyaratan AI dalam ISO/IEC 17024:2026 tidak dimaksudkan untuk menghambat inovasi. Sebaliknya, standar ini mengakui bahwa teknologi modern dapat meningkatkan efisiensi, konsistensi, dan efektivitas proses sertifikasi.
Namun, inovasi harus selalu diimbangi dengan tata kelola yang baik (good governance). Tantangan utama bagi Lembaga Sertifikasi Person ke depan bukanlah sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan bahwa penggunaan AI mampu memperkuat kepercayaan terhadap sertifikasi, bukan justru mengurangi integritas, ketidakberpihakan, dan kredibilitas hasil sertifikasi.
Pada akhirnya, ISO/IEC 17024:2026 mengirimkan pesan yang jelas: penggunaan AI diperbolehkan dan bahkan dapat memberikan manfaat yang signifikan, tetapi organisasi harus memahami, mengendalikan, memvalidasi, dan mengelola risiko yang ditimbulkan secara efektif.
Keberhasilan implementasi AI tidak hanya diukur dari tingkat otomatisasinya, tetapi dari kemampuannya menjaga dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem sertifikasi person.